ai generated 8502842 1280

BERBAGI ANTAR SESAMA SEBAGAI SEBUAH IBADAH

Kita mulai diskusi ini pada bahasan tentang firman Allah  dalam surat Asyu’ara ayat 88-89 yaitu yang berbunyi:

pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Allah menegaskan bahwa harta dan anak-anak tidak dapat menebus kesalahan kita nanti pada hari kiamat. Apakah kemudian harta dan anak menjadi tidak perlu kita miliki? Tentu saja tidak demikian adanya. Harta, anak dan semua yang ada dalam kendali kita akan bermakna manakala kita menjadikannya sebagai media dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta ‘ala.

Harta dan anak termasuk dalam daftar yang disebutkan Al-Qur’an sebagai kesenangan manusia yaitu dalam surat Al-Imran ayat 14:

“Dijadikan terasa indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diinginkannya dari perempuan-perempuan dan anak-anak, dan harta yang berlimpah dari emas dan perak, dan kuda pilihan, dan binatang ternak, juga sawah ladang. Itu adalah kesenangan kehidupan dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang baik.” (QS. Ali-Imran : 14)

Membahas tentang kecintaan dalam ayat ini adalah tentu kecintaan yang berlebihan sehingga kemudian jauh dari Allah, jauh dari tujuan penciptaan manusia untuk beribadah. Kecintaan yang dibolehkan dalam Islam terhadap dunia adalah kecintaan sekedarnya, apakah kecintaan terhadap istri, anak, harta dan lain sebagainya. Banyak juga kita temui orang yang begitu cintanya pada harta sehingga menjadi sangat pelit dan sangat susah berbagi. Setiap saat yang dipikirkannya adalah bagaimana menimbun harta sebanyak-banyaknya.

Kadang juga tidak sedikit kita temui kecintaan orang-orang tidak terhadap harta saja namun juga kecintaan terhadap golongannya. Golongan dalam hal ini bisa partai, kampung dan atau organisasi. Tidak sedikit kita temui misalnya organisasi tertentu konlik dengan organisasi yang lain bahkan sampai mengkafirkan organisasi yang lain. Konflik yang ada karena perbedaan dan atau berlebihan dalam kecintaan itu mengganggu kedamaian dalam masyarakat, dan tentu saja merusak persaudaraan sesama muslim dan muslimah.

Kita harus mengatur sedemikian rupa kecintaan kita akan dunia. Kita senantiasa berusaha agar semua yang kita punya dapat kita jadikan media dalam mendekatkan diri kepada Allah. Jika kita punya harta, bagaimana agar harta kita itu bisa menjadi bagian kebaikan dan ibadah kepada Allah. Menyimpan harta berlebihan dan tidak menggunakannya dijalan Allah dengan misalnya sedekah, infaq dan zakat, tentu merupakan suatu yang keliru karena harta yang disimpan itu tidak akan berguna kelak ketika kita menghadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Salman Al-Farisi memberikan rumusan dalam pengelolaan keuangan kita yaitu 1/3-1/3-1/3. Maksudnya adalah 1/3 harta kita dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, 1/3 diinvestasikan dan 1/3 untuk social. 1/3 itu artinya 33.33%. Apakah ada yang menghitung berapa % harta kita yang dibuat sosial?. Coba kita mulai hitung, jangan-jangan 2.5% belum sampai.

Mungkin kita pernah mendengar kisah-kisah para sahabat dalam menafkahkan hartanya. Seperti misalnya Abu Bakar yang mau menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam, namun Rasul memintanya untuk menyisakan sebagian (kalau tidak salah 1/3) untuk keluarganya. Ustman Bin Affan yang membeli sumur seorang Yahudi dan diberikan kepada kaum muslimin kala itu. Sampai saat ini sedekah Ustman terus mengalir karena hartanya masih aktif bahkan dibangun hotel untuk jemaah haji dan umroh dan uangnya disedekahkan.. subhanAllah.

Sebagai penutup saya bacakan ayat dalam Surat Al Baqarah ayat 261 yang berbunyi:

Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ada 700 kali lebih balasan yang diterima oleh mereka yang bersedekah, berinfaq dan berzakat, selain balasan pahala yang akan mengiringi kita sampai hari perhitungan kelak. Allah tidak akan mengingkari apa yang difirmankanNya.

Semoga sekelumit apa yang disampaikan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Yang baik dari Allah dan yang kurang dari saya pribadi.

Wabillahi taufiq wal hidayah..wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Ditulis oleh Fauzi Arif

Rohman Hakim

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Icon